Batam, Suara Guru. Guru harus punya imaginasi dan impian sehingga punya gagasan untuk memperbaiki bangsa. Demikian disampaikan Tjahyo Kumolo, Menteri Dalam Negeri, saat membuka dan pidato pada acara Konferensi Kerja Nasional Ke-V PGRI, di Hotel Pacific Palace, Batam (02/02/2018).

Tjahyo membaca pantun di awal sambutannya, “Dari Jakarta ke pulau Batam banyak kendaraan berlalu-lalang, hati ini sungguh senang dapat bertemu dengan bapak ibu guru sekalian”. Peserta yang berjumlah 2000 orang, dan satu orang kepala sekolah internasional di Kuala Lumpur pun spontan bertepuk tangan.

Tjahyo menjelaskan bahwa bangsa ini menghadapi banyak ancaman. Di antara ancaman bangsa ini adalah radikalisme dan narkoba. Maka, dalam pengajaran guru harus mengimpelentasikan sila-sila Pancasila agar anak-anak terjaga dari pemikiran yang menyimpang. Apa pun mata pelajarannya. Guru juga mengawasi lingkungan sekolah dan rumah dari ancaman teroris dan narkoba, dan mengorganisir orang tua untuk membina anak-anak dengan baik.

“Ancaman lainnya adalah ketimpangan sosial. Sandang, pangan, dan papan belum selesai di negeri ini. Masih banyak guru, polisi, tentara, dan PNS lainnya yang belum punya rumah yang layak. Maka, pembangunan rumah susun dan rumah murah sangat mendesak dan perlu serta segera. Masih ada kekurangan gizi pada anak-anak di Papua. Garam dan padi kita masih impor. Angka kematian ibu hamil yang masih tinggi,” kata Tjahyo.

Tantangan lainnya adalah korupsi. “Guru harus berani menolak jika ada pejabat daerah atau siapa pun yang menawarkan jabatan kepala sekolah dengan keharusan membayar,” kata Tjahyo yang menggunakan baju batik PGRI. Stabilitas nasional juga penting untuk dijaga bersama. Pembangunan difokuskan di wilayah-wilayah perbatasan. Wilayah perbatasan akan dilengkapi dengan alutista dan infrastruktur yang memadai.

Mendagri menjelaskan, kunci kemajuan bangsa adalah mutu pendidikan, dan kunci pendidikan adalah kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Akan tetapi, kesejahteraan guru belum memadai. “Pada saat pembahasan RAPBD, mohon disisihkan untuk guru karena guru merupakan tanggung jawab pusat dan daerah,” pintanya.

Tjahyo juga menyayangkan bahwa, banyak guru pulang telat ke rumah karena lembur membuat laporan, bukan mengajar. Maka perlu perbaikan kebijakan manajemen guru. “Saya setuju administrasi guru disederhanakan. Cukup satu lembar saja,” katanya.

Menjelang tahun politik 2018-2019 ini, Tjahyo juga mengingatkan bahwa, guru harus mendorong kesadaran siswa untuk menggunakan hak pilih dengan baik dan menolak politik uang sekecil apa pun. Pemilih harus memilih kepala daerah dan anggota dewan yang amanah. Yang dilihat dari mereka adalah program-program yang bermanfaat untuk pembangunan daerah dan bangsa. Stabilitas daerah adalah kunci stabilitas bangsa.

Di akhir pidatonya, Mendagri berterima kasih kepada guru-guru. “Berkat didikan para guru, saya bisa berkiprah dalam bidang politik selama kurang lebih 40 tahun atau selama enam periode menjadi anggota DPR, dan saat ini menjadi menteri”.

Gubernur Kepulauan Riau, Dr. Nurdin Basirun, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya bekerja dengan semangat spiritual. Dengan demikian bekerja akan bermanfaat dunia-akhirat, dan terhindar dari penyalahgunaan wewenangan.

Menurut Nurdin, kemiskinan masih sangat tinggi sehingga harus dihapuskan. Tugas pendidikan adalah mencerdaskan anak-anak bangsa sehingga kelak mereka menjadi warga yang bisa bekerja secara profesional dan karenanya akan terhindar dari kemiskinan.

Gubernur Kepri ini juga berharap, kegiatan empat hari Konkernas ini bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran positif yang bisa disampaikan kepada pemerintah pusat dan daerah untuk perbaikan masalah-masalah bangsa, khususnya bidang pendidikan.

Nurdin berpesan, “Guru harus melanjutkan pendidikan hingga S2 dan S3 sehingga wawasan dan pengetahuannya luas. Keterampilan guru akan meningkat dengan pendidikan yang tinggi. Semangat dan dedikasi guru yang tinggi akan menghasilkan generasi yang kompeten dan berkarakter”.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI, Dr. Unifah Rosyidi dalam sambutannya menyampaikan, PGRI merupakan kekuatan moral intelektual bangsa yang menekankan profesionalisme, semangat pengabdian, dan kecintaan terhadap profesi, bersifat inklusif, serta menjaga etika profesi sebagai tata laku dalam melaksanakan tugas.

Unifah menyampaikan di depan Mendagri dan gubernur bahwa, “hendaknya pengangkatan guru diprioritaskan untuk para guru GTT (Guru Tidak Tetap), guru-guru yang berada di daerah 3T (terdepan, terluar, terpencil) yang telah lama mengabdi dan memenuhi kualifikasi dan kompetensi berbasis meritokrasi”.

Menyinggung pengalamannya berkunjung ke Pulau Penyengat mengunjungi situs budaya Melayu, sehari sebelum acara, Unifah yang juga dosen UNJ ini mengaku kagum dengan keindahan dan kerapihan situs tersebut. Relief Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang monumental penuh pesan religius yang terus dipraktikkan dan mengikat perilaku masyarakat.

“Bait demi bait dalam Gurindam 12 adalah pesan moral yang merupakan cerminan pendidikan karakter sebagaimana tercantum dalam Nawa Cita pemerintah Presiden Jokowi, karena sesungguhnya roh pendidikan adalah pendidikan karakter,” katanya.

Unifah menyampaikan terima kasih kepada Ketua PGRI Provinsi Kepulauan Riau, Bapak Huzaifah Dadang dan Ketua PGRI Kota Batam Bapak Rustam Effendi dan seluruh panitia atas kerja keras dan kerja profesionalnya sehingga acara Konkernas tertata dengan rapih, megah, dan indah. Di setiap sudut jalan hotel tempat acara, perempuan dan laki-laki berpakaian adat yang anggun menyambut setiap peserta dengan ramah dan senyum hangat.

Unifah tidak lupa berpantun, “Kota Batam kota madani, berbatasan dengan Singapura; PGRI harus mumpuni, agar pendidikan semakin jaya”.

Sementara Ketua Panitia, Huzaifa Dadang Abdul Gani, yang juga sebagai Ketua PGRI Provinsi Kepri dalam sambutannya menyatakan bahwa guru harus inspiratif sehingga potensi siswa berkembang dengan baik. Potensi siswa membutuhkan guru yang inspiratif.

Menurutnya, guru harus bekerja dengan semangat. Tidak boleh malas karena hasilnya tidak akan maksimal. Kemajuan guru tergantung semangatnya bekerja dan belajar. Guru maju maka bangsa akan maju. Guru juga pemersatu bangsa melalui pengajaran yang demokratis dan cinta NKRI.

“Tidak hanya guru yang harus berubah pola pikirnya. Pengelola guru dari tingkat atas sampai bawah juga harus berubah pola pikirnya. Pengelola harus mengapresiasi guru honorer. Gaji mereka masih kecil. Bisa dibayangkan nasib sekolah tanpa guru honorer,” katanya.

Pada kegiatan ini juga ditandatangani kerjasama antara PGRI dengan APKASI dan Sriwijaya Air, dan deklarasi anti radikalisme. Di sebelah hotel juga diadakan pameran yang menjajakan aneka macam makanan khas Batam, hasil kerajinan, tas, sepatu, topi, dan pakaian. (JEJEN)