Masih teringat kuat dalam pikiran Saya saat HGN tahun 2015 dan 2016 semua guru diwajibkan menggunakan baju putih, tertulis jelas dalam undangan. Dua kali HGN ini sangat menarik dan menggelitik. Mengapa menggelitik? Karena tidak lajim dan lebay. Seolah ingin “menghilangkan” batik PGRI dari HGN. Ini namanya kecelakaan sejarah.

Padahal, HGN itu terlahir dari “rahim batik PGRI”. Tidak akan ada HGN dan Kepres No 78 Tahun 1994 bila tidak ada pasukan guru berseragam batik PGRI. Menggunakan momen HGN dengan uniform selain batik PGRI menjadi lucu dan ahistori. Soeharto sebagai Presiden bukan orang bodoh memutuskan HGN dari hari lahirnya PGRI yang berbatik PGRI.

Justru akan terlihat aneh bila HGN dengan warna putih atau batik selain PGRI. Kecuali mampu mengadakan sendiri diluar tanggal 25 November. Buat saja hari organisasi sendiri, sejenis milangkala agar lebih independen, mandiri dan tidak melawan sejarah. Karena HGN adalah hari ulang tahun PGRI wajar saja bila para guru menggunakan batik PGRI.

Tahun 2018 ini, tepatnya tanggal 1 Desember HGN dan HUT PGRI diadakan di Stadion Pakansari Kab Bogor. PB PGRI dan Kemdikbud yang punya hajat. Sangat wajar bila HGN dan HUT PGRI semua guru yang diundang wajib menggunakan batik PGRI. Bila tidak menggunakan batik PGRI akan sangat tidak elok. Bahkan dianggap aneh.

PGRI mengundang anggotanya untuk hadir di Pakansari dengan menggunakan batik PGRI. HGN saat ini adalah HGN PGRI. Ketua Umum PB PGRI, Dr. Unifah rosyidi dan Dirjen GTK, Dr. Supriano sudah sangat baik dan mengerti sejarah panjang HGN dan HUT PGRI. HGN dan HUT PGRI tidak bisa dipisahkan, tanggal 25 November itu fakta sejarah lahirnya PGRI.

Jangan kalah sama ulat dan ular yang kadang “menyesuaikan” warnanya dengan warna pohon. Ilmu sosial saja menjelaskan pada kita agar cerdas beradaptasi dan menyesuaikan dengan sikon. Bila dalam HGN dan HUT PGRI harus menggunakan batik PGRI, mengapa tidak gunakan saja. Tidak usah lebay dengan menolak menggunakan batik PGRI.

Saran Saya bagi guru yang bukan anggota PGRI dan hadir di Stadion Pakansari, gunakan saja batik PGRI sebagai rasa syukur dan rasa hormat pada PGRI yang menyebabkan anda dapat TPG. Apakah hadirnya TPG karena jasa organisasi anda? Sekali lagi pakai saja batik PGRI, bila tidak berkenan tidak usah ikut HGN dan HUT PGRI.

Sekali lagi, bila masih ada guru yang keberatan menggunakan batik PGRI di HGN dan HUT PGRI. Boleh saja asal momen HGN nya diganti dengan HGN dan HUT organisasi anda. Misal HGN dan HUT nama organisasi anda. Misal, ini hanya misal saja. Maaf, Presiden saja begitu bahagia dan senang menggunakan batik PGRI. Padahal beliau tidak dapat TPG. Anda?

Menghormati PGRI dengan menggunakan batik PGRI saat GHN rasanya bukan sebuah dosa dan kejahatan. Malah itu adalah sikap ksatria dan larut dalam kebersamaan. Yu kita sedikit berbesar hati. Maafkan Saya bila tulisan ini sangat subjektif. Namun, setidaknya Saya mengingatkan bagi sahabat Saya sesama guru agar mencoba ikhlas menggunakan batik PGRI. HGN bukan halloween yang beragam batik dan warna baju.

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)