Brussel,KSPI- Konfederasi Serikat Pekerja Internasional ( ITUC : Internasional Trade Union Confederation   ) mengadakan konferensi dengan tema Perdamaian dan Demokrasi bertempat di Brussel , Belgia pada tanggal 11-12 Desember 2017.

Acara ini di hadiri oleh sekitar 30 peserta dari lebih kurang 12 negara antara lain India,Palestina, Pakistan, Indonesia, Spanyol, Swedia, Maroko, Kolombia, Nigeria, Belanda dan beberapa negara lainya. Masing-masing perwakilan serikat pekerja terdiri dari 2 orang perwakilan yang terdiri dari generasi muda dan generasi tua.

Pada kesempatan ini di bahas antara lain permasalahan pengganguran kaum muda, krisis migran,  konflik di beberapa negara ,  lahirnya pemimpin yang cenderung anti demokrasi yang mengancam demokrasi dan juga keberadaan serikat pekerja, ketidakpastian kerja, dan juga peran serikat pekerja dalam perdamaian atau penyelesaian konflik.

Dalam sambutanya Sharan Burrow selaku Sekretaris Jenderal dari International Trade Union Confederation (ITUC) mengingkatkan tentang tantangan dan juga posisi gerakan buruh saat ini.

“ Ada berbagai masalah yang kita diskusikan pada kesempatan ini, bagaimana peran serikat pekerja untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, pelanggaran hak asasi manusia dan hak serikat buruh, kekuatan globalisasi perusahaan; praktek kerja eksploitatif yang mendorong terjadinya krisis keamanan pangan, pekerjaan tidak tetap” ujarnya

“Perkembangan ekonomi yang melambat, ketidakpuasan akan kebijakan Uni Eropa, dan krisis imigran telah menyebabkan partai ekstrem kanan Eropa meraih sukses besar. Selain itu isu dan

permasalahan seputar kebebasan, demokrasi dan perdamaian yang berada di bawah ancaman serius di dunia yang semakin tidak stabil dan tidak dapat diprediksi menjadi focus diskusi kita “ tambahnya.

Standar ILO Baru

Pada tahun 2017 ILO mengadopsi Rekomendasi No 205 tentang Ketenagakerjaan dan Pekerjaan yang Layak untuk Perdamaian dan Ketahanan

Standar ILO baru yang penting ini ditetapkan secara rinci peran utama pekerjaan dalam kaitannya dengan krisis dan bencana alam, termasuk pentingnya hak fundamental pekerja, investasi padat karya, gender kesetaraan, perlindungan sosial, dialog sosial, formalisasi kegiatan ekonomi informal dan peran penting sektor public.

Ada banyak pengetahuan dan pengalaman di dalam serikat pekerja di seluruh dunia dalam membangun dan memelihara fondasi demokrasi, serta mencegah dan mengatasi perpecahan sosial dan ekonomi yang kerap menjadi akar konflik bersenjata.

Serikat pekerja dan anggotanya juga merupakan kekuatan penting dalam membangun kembali institusi dan infrastruktur yang telah hancur berantakan, dan dalam membangun solidaritas dan menjembatani perpecahan dalam situasi pasca-konflik

Dengan dunia menghadapi tingkat ketidakpastian politik yang tinggi dan meningkatnya risiko bencana terkait iklim, memastikan generasi generasi buruh serikat yang akan datang bisa mendapatkan keuntungan dari akumulasi pengalaman yang ada dalam gerakan serikat buruh yang sudah mencatatkan dirinya dalam sejarah.

Menjembatani Generasi

Selain tema tersebut, konferensi ini juga membahas peran kaum muda dalam organisasi serikat pekerja  dan tantangan serikat pekerja dalam mengorganisir kaum muda ( kaum milineal ) untuk menjadi anggota serikat pekerja ditengah penurunan jumlah keanggotaan serikat pekerja.

Mengingat dibeberapa Negara termasuk di Indonesia jumlah kaum Generasi milenial  saat ini sudah mendominasi  jumlah populasi penduduknya

Berdasarkan data dari Polling Global ITUC juga menemukan bahwa hampir separuh orang percaya bahwa generasi berikutnya akan kesulitan  menemukan pekerjaan yang layak.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard di negara – negara industri di tahun 2016 menemukan bahwa kurang dari separuh kaum muda yang tertarik pada politik, dan itu kurang dari 40 persen orang muda merasa bahwa hak-hak sipil “mutlak penting” dalam demokrasi.

Sikap Apatisme kaum muda dalam demokrasi menjadi kekhawatiran bagi serikat pekerja terkait dengan masa depan mereka.

Untuk itu keterlibatan Serikat Pekerja  dengan kaum muda sangat penting, untuk membantu mereka mengamankan masa depan ekonomi mereka dan membangunnya , komitmen terhadap hak asasi manusia dan demokrasi, adalah tugas mendesak dan penting bagi serikat pekerja dan sangat penting untuk memastikan kaum muda ikut serta dalam demokrasi dan perdamaian.

Konferensi Perdamaian dan Kebebasan ditujukan untuk membantu mempersiapkan para anggota serikat buruh yang lebih muda untuk belajar dari warisan generasi tua dan membangun aktivisme mereka sendiri dalam pertarungan untuk kesetaraan, perdamaian, demokrasi dan hak.

Ada beberapa catatan dari penulis terkait dari hasil konferensi ini yang bisa jadi masukan dan juga tantangan bagi organisasi serikat pekerja kedepan yaitu :

  • Memberikan contoh positif, untuk publisitas dan promosi, tentang bagaimana tindakan serikat pekerja / buruh terkait peran dan kontribusi Serikat Pekerja dalam permasalahan di bidang sosial, Ekonomi , Politik di masing-masing Negara ( Fasilitator Perdamaian, Mengurangi Radikalisme, Pengawasan Anggaran, Legislasi dll )
  • Meningkatkan Peran dan Partisipasi Pemuda dalam Organisasi , bukan hanya sebatas memenuhi kuota organisasi
  • Penurunan jumlah keanggotaan Serikat Pekerja yang perlu disikapi dengan melakukan modernisasi dan pembaharuan strategi organisasi
  • Menguatkan fungsi advokasi/pembelaan selain kemampuan aksi-aksi
  • Tantangan untuk mengorganisir generasi muda untuk berserikat melalui metode organizer yang kreatif dan kampanye yang lebih menarik

Sharan burrow itu guru

Sharan lahir pada tahun 1954 di Warren, sebuah kota kecil di New South Wales (NSW), Australia, dalam sebuah keluarga dengan sejarah panjang keterlibatan dalam serikat pekerja dan perjuangan untuk meningkatkan kehidupan orang-orang yang bekerja.

Kakek buyutnya berpartisipasi dalam aksi pemogokan tukang cukur pada tahun 1891-1892, menjadi salah satu penyelenggara pertama serikat pekerja Australia.

Sharan belajar tentang kependidikan di University of NSW pada tahun 1976 dan memulai karier mengajarnya di sekolah-sekolah tinggi di seluruh negeri NSW.

Dia menjadi organisatoris untuk federasi serikat guru NSW yang berbasis di Bathurst, dan menjadi presiden Dewan Buruh dan Perdagangan Bathurst pada tahun 1980.

Sharan terpilih wakil senior presiden Federasi Guru NSW dan kemudian menjadi presiden Australian Education Union (AEU) pada tahun 1992.

Sharan juga pernah menjadi wakil presiden Education International  pada periode  1995 sampai 2000. Ini adalah organisasi serikat pendidikan internasional yang mewakili 24 juta anggota di seluruh dunia. (Herfin)