Medan—Suara Guru. Usaha memperkuat peran perempuan PGRI sudah dimulai sejak Kongres I 25 November 1945, bahwa harus ada anggota putri di kepengurusan Pengurus Besar (PB) PGRI. Demikian dikatakan Wakil Ketua PGRI Gorontalo Zuraiha Mentemas Jusuf pada saat menyampaikan materi Penguatan Peran Perempuan PGRI dalam kegiatan Pertemuan Perempuan PGRI pada Konferensi Kerja Nasional IV PGRI 2017 di Hotel Madani, Medan, Jumat (27/01), yang dihadiri utusan perempuan PGRI dari 34 provinsi.

Saat kongres XIX Tahun 2003 di Semarang disetujui bahwa persyaratan kepengurusan PGRI dari semua tingkat harus memerhatikan kesetaraan gender. “Forum hari ini adalah wadah yang sangat tepat untuk saling bebagi pengalaman sehingga kita saling melengkapi,” katanya penuh semangat.

Menurutnya, laki-laki dan perempuan memang beda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan. “Yang terpenting jangan hanya mengejar kuantitas keterwakilan perempuan dalam kepengurusan PGRI tetapi perempuan harus mampu menunjukkan kualitas dan kinerja yang sama dengan laki-laki,” tuturnya.

Zuraiha menyatakan, setelah menunggu 71 tahun (1945-2016), dengan memerhatikan prestasi dan dedikasi Ibu Unifah Rosyidi, insya Allah beliau dapat dikukuhkan menjadi Ketua Umum sampai terpilihnya Ketua Umum baru hasil Kongres XXII pada bulan Juli 2019 nanti.

Dia melanjutkan, perempuan PGRI, guru TK, guru SD, guru SMP, dan guru SMA harus maju karena fasilitas saat ini sangat mendukung. Raden Ajeng Kartini saja bisa berhasil pada masa lalu padahal dalam kondisi yang serba sulit. Guru saat ini harus lebih maju.

Guru harus berani memulai sesuatu yang positif. Jangan katakan ‘saya masih perlu waktu’. Kegagalan merupakan batu loncatan untuk sukses di kemudian hari. “Kadang-kadang kita lebih memilih nekat daripada percaya diri,” tegasnya.

Guru jangan takut salah saat mencoba hal-hal baru. “Kekeliruan terbesar yang mungkin kita buat adalah kuatir jangan-jangan berbuat kesalahan,” tuturnya.

Zuraiha berpesan bahwa, “Profesi guru itu sebagai ibadah. Pengurus PGRI harus bekerja sekeceil apa pun karena pasti ada maknanya”. (JEN)