Walikota Tangsel bersama Ketua PB PGRI, Warek I UIN, dan Jajaran Pengurus PGRI Kota Tangsel

Suara Guru – Dalam rangka HUT ke-74 Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI) dan Hari Guru Nasional tahun 2019 serta HUT ke-11 Kota Tangerang Selatan(Tangsel), Pengurus PGRI Kota Tangsel bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel, Aliansi Guru Honorer Kota Tangsel, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar Pendidikan, Rabu, 6 November 2019. Seminar ini bertema “Peran Strategis Guru dalam Mewujudkan SDM Indonesia Unggul”, dengan narasumber: Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH., (Walikota Tangsel), Prof. Dr. Zulkifli (Wakil Rektor 1, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof. Dr. Supardi Uki S., MM. MPd. (Ketua PB PGRI).

Pembukaan acara diawali dengan penampilan Tari Anggrek yang dibawakan oleh guru-guru dari Aliansi Guru Honorer Kota Tangsel dan pemotongan tumpeng. Tampilan Tari Anggrek dan pemotongan tumpeng dilakukan sebagai salah satu upaya pelestarian budaya dan tradisi yang ada di Kota Tangsel.

Acara sambutan disampaikan oleh Yayat Supriatna, S.Pd. selaku Ketua Panitia, Cartam, M.Pd., Ketua PGRI Kota Tangsel, dan Drs. H. Benyamin Davnie, Wakil Walikota Tangerang Selatan. Dalam sambutannya, Wakil Walikota Tangsel menyampaikan bahwa dalam kepemimpinannya mendampingi ibu Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan memiliki komitmen yang tinggi terhadap guru dan pendidikan. Berbagai program telah dilakukan, misalnya pembangunan insfrastruktur fisik ruang-ruang kelas di seluruh sekolah. Walikota juga punya komitmen yang tinggi terhadap kesejahteraan guru honorer. Saat ini, guru honorer di Kota Tangerang Selatan telah mendapatkan penghasilan sebesar 2,5 juta rupiah per bulan yang dialokasikan dari APBD Tangsel. Tunjangan ini lebih tinggi dari Upah Minimum Provinsi Banten yang hanya 2,4 juta rupiah. Selain itu, mulai tahun 2020 untuk guru-guru di sekolah swasta sudah dianggarkan pemberian insentif dari Pemda Tangsel sebesar 250 ribu per bulan. Bentuk kepedulian pada guru honorer terlihat di acara seminar ini dengan dilakukan penyerahan secara simbolis BPJS ketenagakerjaan yang didanai oleh Pemda Kota Tangsel. Ada dua manfaat yang dicover dalam BPJS kali ini, yaitu manfaat kecelakaan dan kematian. Benyamin Davnie juga berjanji bahwa untuk tahun depan maslahat BPJS akan ditambah dengan manfaat Tunjangan Hari Tua.

Seminar Pendidikan ini dihadiri sekitar 1.500 guru anggota PGRI dari jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA. Dalam sesi seminar, Prof Dr. Zulkifli, Warek 1 UIN Jakarta menyampaikan, bahwa di negara-negara luar seperti Malaysia, guru mendapat tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Peran guru di era digital saat ini harus fokus dalam pendidikan karakter, dan guru menjadi fasilitator.

Prof. Dr. Supardi  U.S., Ketua PB PGRI menyampaikan paparannya tentang: Guru merupakan poin utama untuk dapat mewujudkan SDM Unggul dan mencapai cita-cita Indonesia maju. Saat ini, Indonesia memiliki 269 juta penduduk, 300 ribu sekolah,  dan 45 juta siswa, dengan jumlah guru sekitar 3,014 juta. Dari jumlah 3 juta guru tersebut, guru ASN-nya sekitar 1,5 juta dan sisanya masih berstatus guru tidak tetap/honorer. Bahkan untuk sekolah negeri sendiri masih kekurangan guru tetap (ASN) sebanyak 988 ribu guru. Pemerintah di tahun 2018 telah mengangkat guru ASN (PNS/PPPK) sekitar 120 ribu, dan rencananya tahun ini mengangkat sekitar 60 ribu guru. Padahal di tahun 2019 ini, akan ada guru PNS yang pensiun 62 ribu guru, dan tahun 2020 mendatang juga akan ada guru pensiun sekitar 60-70 ribu guru per tahun. Jika pola pemenuhan kekurangan guru tetap dilakukan secara bertahap dan perlahan seperti ini, maka sama saja dengan memperpanjang kemelut pemenuhan guru yang akan berdampak pada kualitas proses pendidikan. Padahal guru merupakan poin penting dalam proses pendidikan untuk mewujudkan SDM Indonesia unggul.

Terkait dengan kekurangan guru ini, harusnya pemerintah pusat (Kemendikbud) dan pemerintah daerah bersama-sama dengan kementerian/lembaga lain yang turut mengelola pendidikan dapat mengalokasikan 20% anggaran pendidikan dengan prioritas pemenuhan guru. Sehingga permasalahan guru honorer tuntas dan semua guru memiliki status yang sama, sehingga mendapatkan hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk mendapatkan penghasilan/kesejahteraan, hak mendapatkan perlindungan, dan yang paling utama yaitu hak untuk mendapatkan diklat/workshop dan sebagainya dalam rangka peningkatan kompetensi.

Kita jangan mengeluhkan kompetensi guru yang ada saat ini, terlebih untuk guru honorer. Justru harusnya kita berterimakasih terhadap mereka, karena keberadaan guru honorer sangat membantu proses pendidikan di setiap sekolah negeri sehingga KBM dapat berjalan.

Yang harus dipikirkan agar pendidikan berjalan baik dan berkualitas, maka harus ada upaya untuk menghasilkan guru profesional yang berkualitas, berasal dari para siswa SMA/SMK yang berkualitas super. Karena sudah menjadi hukum alam, bahwa kualitas suatu produk jadi sangat ditentukan oleh kualitas input (bahan bakunya). Oleh karenanya, kalau anak-anak yang memiliki kompetensi akademik dan talenta tinggi banyak berminat jadi guru, maka akan dihasilkan guru-guru berkompeten dan berkualitas yang dapat menciptakan proses pendidikan berkualitas yang dapat menghasilkan SDM unggul dan mewujudkan Indonesia maju.

Di era digital saat ini, guru harus merubah mindset dan cara kerja dalam pembelajaran. Guru harus mampu merubah dirinya sendiri, selain berupaya membelajarkan siswanya sesuai dengan perkembangan zaman. Belajar tidak harus berlangsung di dalam kelas, dan guru tidak harus mebjadi sumber ilmu pengetahuan. Informasi dan pengetahuan setiap mata pelajaran dapat diakses melalui google dan media online lainnya, serta dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Di era digital ini, guru harus lebih berperan sebagai inspirator, motivator, dan fasilitator bagi terlaksananya pembelajaran siswa. Selain sebagai inspirator dan role model dalam penguatan pendidikan karakter.

Pembelajaran di era revolusi industri 4.0 ini juga harus bergeser dari pembelajaran konten ke pembelajaran literacy; mulai dari literasi main set (literasi dasar), literasi digital, literasi kompetensi, sampai pada literasi kehidupan.

Sementara itu, ibu Airin Rachmi Diany (Walikota Tangsel) dalam pemaparannya menekankan: Bahwa keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua dan guru. Pendidikan karakter harus diawali dan dicontohkan oleh orang tua di rumah. Pemerintah Kota Tangsel memiliki kepedulian yang tinggi terhadap guru dan pendidikan. Pemda Tangsel telah mengalokasikan anggaran pendidikan lebih dari 20% termasuk untuk memberikan insentif/gaji guru honorer dan guru swasta yang jumlahnya lebih dari 1600 orang.

Ibu Airin menyampaikan pula telah memprogramkan pembangunan gedung PGRI Kota Tangsel pada tahun 2021, yang disambut tepuk tangan gemuruh dari para guru anggota PGRI yang hadir.

Tangsel, 6 November 2019.

Supardi US/CNO untuk Suara Guru