PGRI Ngangenin Presiden Jokowi

Oleh : Dr (Cand) Dudung Koswara, M.Pd

(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Bila kita baca dengan seksama dalam FB dan twitter Presiden Jokowi sangat jelas bahwa Ia tak mampu menahan kangen ingin bertemu dan bercengkrama di tengah-tengah anggota PGRI. Ketidaksanggupan  menahan kangennya pada PGRI jelas sangat terlihat. Bahkan Ia “keceplosan”  tentang masa lalunya saat menjadi Walikota Solo yang sering bertemu dan berdiskusi dengan para pengurus PGRI. Bersilaturahmi dengan pengurus PGRI adalah sebuah  momen pemberkah baginya.

Rasa kangen  dalam jiwa Presiden nampak terlihat  sampai Ia tak mau membacakan sambutan yang sudah disipakan  beberapa lembar oleh stap kepresidenan. Bahkan penulis  memperhatikan dengan jelas saat pertama Presiden Jokowi masuk ruangan  menyambut para guru yang tergabung dalam pengurus PGRI begitu ceria tapi agak “GR.” Bahasa tubuhnya dan tangan yang sempat memperbaiki posisi jas hitam yang dikenakannya memperlihatkan Ia  tak sabar ingin bertemu dengan PGRI.

Kalau kita  baca twitternya nampak sangat  romantik. Ia mengatakan “Kita bergandengan tangan lagi.” Seperti ungkapan mengajak penuh samangat  seorang jejaka pada pasangan gadisnya atau seorang anak kecil yang kangen berat sama sahabat bermainnya.  Kita bergandengan tangan lagi adalah sebuah ungkapan yang ingin menguatkan “hubungan” yang lebih kompak, hangat dan saling melindungi. Persahabatan, perkawanan dengan bergandengan tangan adalah sebuah persahabatan yang tidak hanya formalistik tatap muka. Melainkan persahabatan yang penuh komitmen, saling mengisi dan selalu bersama.

Jokowi adalah Presiden wong cilik yang bersahaja dan  sangat hormat pada guru. Dalam  realitas sosial kita masyarakat yang lahir dari kalangan wong cilik cenderung masih sangat menghargai profesi guru. Agak berbeda dengan masyarakat kelas atas   dengan segala kesibukan dan persaingan hidup yang tinggi respeksitas terhadap guru sangatlah kurang. Bahkan bagi golongan elite bisa jadi guru dianggap sebagai  profesi yang tak penting.

Jokowi nampak dengan jelas sangat setuju ketika Plt Ketua Umum PB PGRI Dr Unifah Rosyidi mengarahkannya untuk berfoto bersama dan satu-satu bersalaman sambil berfotojuga. Ini satu keingingan  anggota PGRI dan sebenarnya seirama dengan  keingin dari Jokowi. Senyum dan sapaan Jokowi saat berfoto bersama dan berfoto berdua dengan setiap guru menjelsakan tentang keakraban yang menyimpan “potensi” kangen yang sudah lama dipendamnya.

Jokowi nampak ceria dan melepas kangen dengan berfoto bersama. Bahkan bisa jadi bahasa tubuh Jokowi dan keramahan Jokowi adalah salah satu bentuk rasa syukur pada Tuhan dan ungkapan terimakasih pada PGRI karena Ia menjadi Presiden terkait kuat dengan PGRI. Terkait karena  semasa menjadi Walikota Solo Ia dekat dengan anggota dan pengurus PGRI. Bahkan lebih jauh Tuhan memberikan pasangan hidup bagi dirinya dari  seorang anggota PGRI Solo. Putri cantik anak seorang guru yang anggota PGRI membuatnya  bisa seperti sekarang ini.

Semua orang bijak sepakat bahwa dibalik kesuksesan seseorang ada sosok-sosok hebat pemberi spirit dan teman setia dalam duka dan susah yakni seorang istri. Istri tercinta Jokowi adalah anak seorang guru daerah yang sangat sederhana namun penuh dengan filosofi-filosofi yang luar biasa.  Istrinya Jokowi adalah seorang anak guru anggota PGRI dan bahkan kakak dari istrinya adalah seorang guru. Ia menikahi keluarga guru anggota PGRI. Secara emosional Jokowi sukses terkait peranan keluarga guru dan ada PGRI didalamnya. Menerima jamuan makan siang dan kemasan audiensi di Istana Negara pada dasarnya adalah silaturahminon formal yang nostalgik. Mengingatkan sejarah panjang keluarga sukses Jokowi yang terkait dengan guru dan PGRI ada didalamnya.

Mengapa PGRI ngangenin bagi Jokowi? Sebenarnya hanya Jokowi yang tahu persis tetapi bahasa tubuh dan “celotehannya” di medsos menjelaskan ada keinginan untuk tidak dijauhkan dari PGRI. Bahkan tahukah anda rasa kangen pada PGRI yang kuat menyebabkan Jokowi “kecelposan” mengatakan memang sebelumnya ada “upaya” yang menjauhkan dirinya dengan PGRI. Pada dasarnya Jokowi “gak kuat” ingin bertemu dengan para guru sejak “dilarang” dalam HGN dan HUT PGRI ke 70.

Dr Unifah Rosyidi sebagai Plt. Ketua Umum PB PGRI super cerdas dalam memahami potensi kangen Sang Presiden sehingga Ia mencari celah sulit yang penuh dengan rintangan birokrasi untuk  mempertemukan para guru dengan Presidennya. Tanggal 26 Oktober  adalah hari  istimewa dimana Dr Unifah Rosyidi mempertemukan seseorang yang sangat kangen dengan komunitas yang sama juga kangennya.  Jokowi adalah kita, kita adalah Jokowi  setidaknya ungkapan ini kembali pada kebathinan para guru. Jokowi sayang guru, guru sayang Jokowi.

Gerakan revolusi mental yang dicanangkan  Jokowi mendapat dukungan dari para guru dengan sama-sama membangun Indonesia dari pinggiran melalui sekolahan, ranting, PC dan terus berjenjang sampai nasional.  Gerakan perbaikan nasib gurupun mendapat dukungan dari Jokowi. Janji Jokowi untuk membenahi nasib guru termasuk “fenomena” guru honorer didalamnya menjadi agenda Kemdikbud atas perintah Jokowi.  Seribu kali acung jempol besar untuk pengurus besar PGRI dibawah komando srikandi cerdik Dr Unifah Rosyidi.