Orandum est us sit, mens sana in corpore sano. Kalimat berbahasa Latin ini ditulis pujangga Decimus Iunius Iuvenalis, sangat popular ke seantero jagat. Maknanya, berdoalah semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Tubuh dan jiwa anak manusia harus sehat. Sehat tubuh karena berolah raga. Sehat jiwa harus karena dididik.


Filosofi ini menjadi conditio sine quanon-syarat bagi proses menciptakan generasi yang mewakili masa depan yang kreatif dan berakhlakul karimah. Idealisme ini hanya bisa diwujudkan melalui pengabdian guru. Posisi guru tegas sekali sebagai agen perubahan. Guru harus sehat lahir-batin. Guru harus mengasah, mempertajam bakat dan kemampuannya.

 Seperti kata orang bijak, tidak ada kemajuan bangsa tanpa sumber daya manusia yang unggul dan tidak ada kemajuan sumber daya manusia yang unggul tanpa adanya peranan seorang guru. Porseni menjadi ajang yang menguatkan niat untuk terus mengakselerasikan tuntutan zaman. Jadi, guru harus berani bersaing sehat serta menunjukkan kemampuan dan bakatnya.

PGRI sebagai wadah organisasi profesi sigap memasukkan ajang adu kreativitas dan bakat para guru. Wajar, porseni pun menjadi salah satu agenda menggerakkan semangat bersaing dan pengabdian tanpa batas. Di sisi lain, porseni memiliki implikasi kuat dalam mewujudkan silaturohim antarsesama guru, antarpemangku kepentingan bidang pendidikan bagi lokal maupun nasional.

Tak ayal, porseni PGRI sangat populer di seantero nusantara. Semangat porseni PGRI telah mengakar sebagai proses menyamakan persepsi dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tak heran, bila setiap perhelatan porseni PGRI pasti meriah, penuh makna. Sebut saja Porseni 2016 PGRI yang berlangsung selama lima hari di Siak-Riau mendapat perhatian mendikbud dan pemerintah provinsi. Gubernur Riau, Plt. H. Arsyadjullandi Rachman,  Bupati Siak Syamsuar, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kadri Yafis dan Kepala BKD Lukman, Ketua PGRI Riau, Isjoni, Ketua PGRI Kabupaten Siak, Lukman telah bekerja keras menjelmakan Porseni 2016 PGRI sebagai pesta olah raga dan seni guru yang serta memberikan semangat juang guru. (Basyarudin)