Riau,Siak,-Porseni 2016 PGRI bergelinding di Siak sebagai sebuah pertemuan perwakilan guru seantero nusantra. Lima hari mereka saling baku unjuk bakat seni dan olah raga. Mereka  berbagi cerita, bertukar pengalaman, berdendang dan menyamakan persepsi. Menjunjung sportivitas, kreativitas menjadi pemantik bagi kukuhnya  panji organisasi.

Datang, bertanding dan menang itu hanya pemanis bakat mereka karena tujuan utama porseni itu bertemu, berurun rembuk untuk mendenyutkan nadi kesolidan organisasi. Bak Sungai Siak tekad ini mengaliri semangat juang.

Di balik tekad ini terungkap fakta unik porseni Siak. Bukan semata karena Siak-sebuah situs kesultanan di tepi Sungai Siak. Semua keunikan terjelma dalam kondisi penyelengaraan dan meliu yang mendorong sebuah perubahan sekaligus ujian di tengah kecerian berlomba. Ada sembilan fakta unik yang terjaring dalam Porseni 2016.

Pertama, porseni diawali malam selamat datang. Di sini sejarah Siak terungkap singkat dalam orasi Bupati Siak, Syamsuar dan testimoni Plt Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi tentang keindahan Sungai Siak. Sungaai ini tak kalah dengan sungai-sungai indah di dunia, seperti  Times, Rein yang banyak menyedot menjadi destinasi wisata pendulang devisa. Tak ayal, PB PGRI bertekad menjadikan destinasi wisata sebagai salah satu penguat pendidikan karakter dan eksploitasi-restorasi kearifan lokal.

Kedua, di malam selamat datang, separuh peserta tumpah ruah menari bersama Ketua Umum PB PGRI, penasihat PGRI Wardiman Joyonegoro, para ketua PGRI ikut menari poco-poco.

Ketiga, porseni ini menjadi kali pertama Mendikbud Muhadjir Effendi menghadiri perhelatan akbar guru se-Indonesia. Ia orang pertama menjadi menteri berasal dari rahim pertama universitas pencetak guru (alumnus IKIP Malang). Kali pertama juga ia meresmikan pesta olah raga dan seni guru yang berlangsung di situs sejarah Melayu di era kesultanan.

Keempat, kesiapan panitia daerah dan PB PGRI  nyata menjamin kepuasan peserta. Porseni dipersiapkan sejak Desember 2005. Kesungguhanan Riau tak tanggung-tanggung. Terbukti Bupati Siak Syamsuar, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kadri Yafis dan Kepala BKD Lukman bertemu  Mendikbud Muhadjir Effendi di ruang kerjanya meminta agar Muhadjir Effendi mau meresmikan porseni.

Kelima, sepanjang jalan-jalan umum mulai dari Pekan Baru hingga Kabupaten Siak berkibar banner porseni dan plakat yang mirip dengan kampanye. Wajar, bila mayoritas penduduk mengetahui event ini.

Keenam, kekeluargaan antarpeserta tergolong hebat. Ibu Kota Siak Inderapura tidak memiliki transfortasi umum. Banyak peserta yang tercecer dari rombongan dilayani dengan tulus oleh rombongan lain, baik menuju venue maupun kembali ke penginapan yang terpisah sepanjang dua kilometer.

Ketujuh, alun-alun di depan istana sultan yang hanya luasnya hanya setengah dari lapangan sepak bola seperti disulap menjadi pesta olah raga nasional. Ini karena defile kontingen diiingi midley lagu-lagu daerah masing-masing. Suasana keindonesiaan dan tekad melestarikan budaya dan kearifan lokal mengental dalam penampilan tari adat Melayu dan lantunan lagu-lagu Melayu yang mendayu bak riak indah Sungai Siak.

Kedelapan, semarak porseni melibatkan seluruh muspida Siak, guru dan pelajar. Mereka tulus ikhlas menerima peserta di Lembaga Adat Melayu (LAM) sebagai tamu agung. Berbagai minuman-kudapan khas Siak tersaji di depan LAM. Para penyajinya yang umumnya guru-siswa mau menerangkan kekhasan nama minuman-makanan tersebut.

Kesembilan, gelar konferensi pers yang berlangsung di Balai Mahratu memasukkan sikap mengutuk atas meninggalnya Tatang Wigandan seorang guru yang dikeroyok pengemudi angkot. Moment konferensi pers menjadi pengeras bagi pentingan undang-undang perlindungan guru. (gun)