Oleh: Supriyanto, Ketua PGRI Kab.Jember, Jawa Timur

Tidak ada yang memperkirakan akan terjadi Pandemi Corona di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Virus Corona pertama menyerang di Kota Wuhan, Tiongkok. Ketika membaca berita Corona, awalnya tidak terpikirkan hal itu akan terjadi juga di Indonesia. Ternyata perkiraan kita semua salah. Kita stres dan panik ketika kasus pertama Corona di Indonesia diumumkan awal Maret 2020.

Dalam kondisi kepanikan ini, dunia pendidikan juga turut panik karena semua pelaku pendidikan mulai bingung apa yang harus dilakukan. Hal itu cepat direspon oleh Mendikbud Nadiem Makarim dengan menerbitkan kebijakan – kebijakan untuk menjawab persoalan di lapangan, di antaranya: Peniadaan UN 2021 dipercepat menjadi tahun 2020, dan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home.

Otomatis dengan kebijakan tersebut guru harus menemukan solusi untuk menjawab berbagai tantangan tersebut. Dalam kondisi seperti itu, umumnya kemampuan guru hanya akrab dengan aplikasi Whatapps dan Video Call. Dengan serta merta metode mengajar yang dikembangkan adalah pemberian tugas, langkahnya membentuk Grup WA wali murid di tiap jenjang dengan admin guru kelas/ mapel, selanjutnya tugas diberikan guru melalui wali murid. Dalam satu atau dua hari proses ini masih nyaman berjalan. Pihak wali murid dan guru sama-sama semangat menjalankan work from home.

Apa manfaat yang dapat dipetik? Di antaranya adalah terjadinya komunikasi yang intens antara guru dan wali murid, dan saling memahami kebutuhan masing-masing. Ternyata kondisi seperti itu tidak berlangsung lama karena sama-sama mendapatkan kesulitan. Apa kesulitannya? Misalnya siswa kurang respon dengan tugas-tugas yang diberikan oleh orang tua yang meneruskan tugas dari guru , bahkan lebih banyak wali murid yang mengerjakan tugas-tugas tersebut. Dan guru mengalami kesulitan untuk mengoreksi tugas yang dikumpulkan wali berupa file. Maka dengan teknologi tugas melalui WA, sama-sama overload.

Dari kondisi pembelajaran tersebut berbagai terobosan terus dicoba oleh para guru dengan memanfaatkan video conferences secara daring. Aplikasi zoom, webex dan sejenisnya terdapat komunikasi dua arah secara berjamaah dari rumah kediaman siswa juga guru. Mudah-mudahan teknologi informasi dengan berbagai aplikasi bisa sedikit menggantikan pembelajaran tatap muka. Dengan pola vicon, guru dituntut dapat menggunakan variasi pembelajaran dengan berbagai teknik dan strategi pembelajaran yang menyenangkan.

Jika ini berlangsung lama, maka proses penddikan yang di dalamnya ada mendidik dan mengajar tidak akan dapat diberikan secara proporsional. Akan terjadi proses mengajar yang lebih besar porsinya dibanding mendidik, maka akan terjadi defisit pada proses pendidikan. Memang betul pernyataan bahwa guru tidak bisa digantikan dengan teknologi. Physical distancing antara guru dan murid akan menjadi problem dalam proses mendidik secara utuh.

Editor: Catur NO.