Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Saat saya mengitari Kota Bandung di saat musim libur, banyak yang bisa dilihat dan diamati. Ada satu sudut pandang yang menarik untuk diapresiasi dan dideskripsikan pada pembaca. Hal yang unik adalah ada tiga anak sekolah dasar yang saat libur malah kerja.

Ketiga anak hebat ini adalah Ardi, Refal dan Saeful. Anak ini berjualan coet dan mutu yang terbuat dari batu hitam. Mereka memanggul coet dan mutu memecah keramaian Kota Bandung. Ia mendatangi keramaian dan memastikan diatara ribuan orang yang lalu lalang berharap ada yang butuh coet dan mutu.

Saya tertarik dan mendekati mereka. Biasa dengan beberapa lembar uang mereka semangat membuka komunikasi. Dengan pendekatan uang mereka “terpaksa” menyediakan waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan.

Dari dialog anak pekerja yang luar biasa ini ditarik beberapa kesimpulan. Pertama hadirnya anak pekerja dilatar belakangi oleh kebutuhan keluarga yang secara ekonomi kekurangan, sementara kebutuhan biaya sekolah dan keluarga tak bisa puasa.

Kedua anak bekerja karena dalam diri Sang Anak ada mental petarung yang luar biasa dalam menjalani hidup. Ia dalam usia yang sangat jauh dari orang dewasa sudah masuk dimensi kehidupan orang dewasa. Mencari nafkah adalah dimensi orang dewasa. Mereka bertiga adalah manusia “prematur” pelaku ekonomi anak, anak pelaku ekonomi.

Ketiga anak bekerja terkait dengan kultur daerah dimana Ia tinggal. Ditempat tinggalnya ada beberap Home Industri yang butuh pemasaran. Anak saat libur telah “dimanfaatkan” para pelaku usaha untuk menjadi marketer cilik. Ini memang bertabrakan dengan etika perlindungan anak namun realitasnya memaksa Sang Anak menjadi pekerja.

Di ujjung pembicaraan dengan Sang Anak Hebat saya sampaikan motivasi pada mereka dengan sedikit provokatif. Saya katakan, “Nak dalam tas kecil saya ini banyak uang, Saya tidak kekurangan rezeki, Saya sejahtera dan bahagia saat ini”. Sang anak nampak agak mengeryitkan dahi. Mungkin dalam fikirannya Bapak yang satu ini sombong amat.

Setelah menarik nafas dan sedikit senyum saya sampaikan pada anak-anak hebat ini. Tahukah kamu mengapa saat ini saya banyak uang dan hidup bahagia? Karena saat Saya kecil seusia kamu Saya melakukan hal yang sama dengan kamu. Sudah jualan dan bekerja mencari nafkah disaat anak lain bermain, santai dan manja-manja.

Sambil saya tepuk pundak dan sedikit saya usap kepalanya. Saya katakan “Saya doakan kamu jadi orang hebat dan kaya raya kelak ketika dewasa, karena orang-orang hebat seperti kalian pasti sukses. Anak nampak senyum dan terlihat giginya. Saya menangkap ketiga anak ini terlihat “haus” pujian dan motivasi.

Dale Carnegie seorang psikolog terkemuka dunia mengatakan, “Banyak orang gagal karena diantara kita miskin pujian pada sesama”. Ungkapan ini benar sekali, bahkan di negeri kita ini bukan budaya apresiasi yang mengemuka melainkan budaya menghujat dan terkadang menghakimi.

Membongkar aib, memfitnah, menjegal, iri, dengki, sirik bahkan mungkin sampai sakit karena tak rela melihat orang lain sukses masih ada dalam tubuh masyarakat kita. Tuhann saja menutupi aib kita. Mengapa kita senang melihat aib orang lain , padahal dalam ajaran semua agama menyampaikan pesan “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, mereka adalah kita, kita adalah mereka, kamu adalah aku, aku adalah kamu. Semua penghuni bumi adalah saudara sebapak dan seibu.

Kembali pada tiga anak hebat. Mari kita semua untuk lebih peka terhadap realitas dinamika para calon penghuni masa depan (anak) karena mereka adalah kita pada masa yang akan datang. Indonesia kedepan adalah mereka. Kita hari ini adalah pelayan masa depan mereka. Anak adalah harta termahal di negeri ini.

Anak adalah pemilik dan pewaris bangsa, kita para orangtua adalah pelayan mereka. Orangtua dan masyarakat yang hebat adalah orangtua dan masyarakat yang mampu menghadirkan generasi lebih baik pada masa yang akan datang. Walau dengan segala keterbatasan, bisa pasti bisa!